Tuesday, April 24, 2007

Jilbab dan Titip Absen


Saya pernah baca di suatu buku, ketika seorang wanita memutuskan berjilbab, dia sedang berusaha (sedang berusaha = proses) untuk menjadi seseorang yang tidak mau dinilai sekadar karena, entah kecantikannya, molek tubuhnya, keterampilan memasak atau menjahit, dan segala macam hal yang biasa diasosiasikan dengan kewanitaan seseorang. Ketika seorang wanita berjilbab, dia ingin dinilai sebagai manusia, dengan nilai-nilai yang diasosiasikan pada manusia.

Terus? Suatu siang (atau sore?), ketika suatu mata kuliah sedang berjalan.. si dosen tiba2 nanya tentang materi yang sedang dipelajari dan tidak ada yang bisa menjawab. Karena kesal, si dosen milih nama mahasiswa secara acak dari daftar absen. Beberapa detik kemudian, nah lho, ketahuan dah tu yang nitip absen.

Beberapa detik kemudian.. nama seseorang akhwat berjilbab lebar disebut. Dalam hati saya, ah, dia mah ga mungkin titip absen! tapi.. lho kok ga ada respon dari seisi kelas? coba saya liat, eh beneran ga ada! dia? ga mungkin ah!

Hal ini kebawa terus di pikiran saya. Sampai suatu ketika... astaghfirullah, saya sudah menilai seorang wanita -- yang sedang berusaha untuk memurnikan apresiasi orang atas dirinya, murni karena nilai manusianya -- atas jilbabnya!

Jadi kepikiran, kalo orang yang sudah biasa melihat "ancur"nya akhwat berjilbab lebar kaya saya ini aja masih berpikiran segitu tingginya tentang jilbab, gimana dengan orang lain?

Lho kok jadi orang lain? Nih, coba apa alasan yang paling sering kita dengar dari seorang muslimah yang belum memutuskan pakai jilbab. Ah, hatinya belum siap. Ah, masih suka dugem. Ah, ntar harus jadi kalem bin anteng. Jawaban2 ini, sebegitu seringnya ditemukan, pasti bukan karena pemikiran pribadi masing2 muslimah yang ditanya, tapi ada pengaruhnya dari masyarakat.

Yup, masyarakat yang berpikir segitu tingginya tentang jilbab. yang pake jilbab itu pasti gini, pasti gitu, pasti begini, pasti begitu, pasti ga pernah titip absen (ups, ini pendapat saya) dll. Yaaahhh, kalo gitu, kapan para muslimah saudari2 kita yang belum berjilbab akan terencourage untuk berjilbab? Setiap kali ditanyain aja, pasti jawabnya belum siap, harus gini dulu, harus gitu dulu, harus ga boleh nitip absen dulu (ehem!) dll.

Jadi, bapak2, ibu2, adek2, kakak2, teman2, musuh2 (ini majas apa ya namanya?), ubahlah prasangka kita tentang jilbab! Adalah salah bahwa pemakai jilbab itu cewek kalem tidak berdosa! Pemakai jilbab, adalah seorang wanita muslimah yang berusaha berubah ke arah lebih baik dan sedang berada dalam proses perubahan tersebut. Dan muslimah yang sedang dalam proses perbaikan diri itu kan belum tentu berjilbab (tp jangan dijadiin alasan tidak berjilbab ya!) Nah, baru kemudian jilbab itu menjadi salah satu parameter terjadinya proses perbaikan tersebut.

Jadi, sekali lagi, memakai jilbab bukan berarti harus bertindak sebagaimana wanita bertindak dan orang suci berperilaku dalam pandangan masyarakat umum. Lemah lembut dengan tutur kata halus, jaga perilaku, ga pernah berbuat dosa dll. Liat tuh, ada satu temen saya, jilbab lebar, suatu siang melompat2 gembira karena dapat menunjukkan kaos kaki barunya yang berwarna pelangi. Dan satu lagi, temen saya, jilbab lebar, bersejarah ngetrek, kalo bawa motor pas belok aja gigi empat! Klo di jalanan sepi sih gapapa ya, lha ini didalam kampus! (ups, yang ini beneran ga boleh ditiru).

(tentang jilbab dan pandangan masyarakat umum tentang wanita, wanita berjilbab tu juga ada yang suka gosip lho. kalo di sinetron kita sering liat cwe berjilbab digosipin sok suci dan ditatap dengan pandangan khas wanita (u kno wha i mean). nah, kalo di mesjid kita sering dengar cwe berbaju ketat, again, ditatap dengan pandangan khas wanita, dan digosipin, oleh cwe berjilbab! kapan yang baju ketat mau pake jilbab, kebetulan dapat hidayah solat di masjid aja dipelototin!)

Ingat, siapa yang terbaik di masa jahiliyahnya akan menjadi yang terbaik di Islamnya. Ukhti, be better but stay who you are. cause there’s nothing bout you we should change (halah, Joey McIntyre).

Thursday, April 06, 2006

artikel jalan terang di kronika 2006-04-07

Suka dan Suka


Lihat cara dia berjalan. Dengar cara dia berbicara. Sepintas, betapa sempurnanya dia. Sepintas kemudian, ingin rasanya berbicara. Berikutnya, baru sadar kalo tiada hari tanpa dia terlintas di benak kita. Tiada hari tanpa... ah sudahlah tak usah kuteruskan.

Kira-kira seperti itulah rasanya suka terhadap lawan jenis. Sebagai manusia kita sering mengalami rasa suka terhadap lawan jenis. Lihatlah di sekitar kita. Ibu dan ayah kita tak akan langsung saling mencintai begitu saja ‘kan? Lihatlah di sekitar kita, pasti ada teman kita yang suka senyum-senyum sendiri kalo seseorang kebetulan lewat di depannya, kalo seseorang itu telat datang kuliah, ataupun kalo seseorang itu sedang stres gara-gara pe er -nya ketinggalan. Itu sudah kodrat kita. Itu memang fitrah kita. Itu sudah dari sananya. Namun, seringkali kita temukan rasa suka diperlakukan lebih dari itu.

Apakah karena memang udah dari sananya, maka kita perlakukan rasa suka itu sesuka kita? PDKT, kemudian nembak, kemudian pacaran kalo diterima, atau kemudian depresi en stres trus IP jeblok kalo ditolak? Oke-oke, di sini saya ga akan ngomongin kenapa pacaran ga boleh. Udah banyaklah yang ngomongin itu, mulai dari pacaran itu mendekati zina, pacaran itu ngabisin duit, pacaran itu ngabisin pulsa dll., dll. Solusi gampang untuk masalah duit dan pulsa abis akibat pacaran, memang ga pacaran sih sebener-nya. Tapi sekali lagi, saya ga ngomongin pacaran di sini.

Yang ingin saya omongin sederhana saja, rasa suka yang gimana sih yang ga akan bermuara di habisnya pulsa dan duit kita. Yang ga akan berakhir di depresi en stres trus jeblok-nya IP. Rasa suka yang fitrah yang berbeda dari rasa suka (yang dicemari nafsu) yang berakhir pada hal-hal negatif di atas.

Terus apa yang membedakan kedua rasa suka itu? Tetep suka tapi ga pacaran? Ga sekedar itu, meski ga pacaran adalah salah satu manifestasi dari rasa suka yang fitrah tersebut. Ga pacaran itu gampang. Segampang susahnya menemukan orang yang juga kebetulan suka ama kita. Segampang tidak usah bilang ke dia bahwa kita suka dia (bagi beberapa orang ini susah).

Susah untuk tidak mengatakannya setiap kali bertemu? Ya jangan bertemu. Pengen ketemuan terus? Cobalah untuk meresapi tujuan dari ingin bertemu tersebut. Kalo cuma buat pinjam catatan, ya pinjam aja, ga usah basa-basi. Kalo cuma buat menyampaikan bahwa besok ada rapat panitia kegiatan, ya sampaikan saja, ga perlu kan ngomongin hal lain yang ga berhubungan ama “agenda” pembicaraan?

Jadi rasa suka yang seperti apa? Rasa suka yang pada fitrahnya ada, tapi bukan untuk diberitahukan sebelum saatnya atau malah digembar-gemborkan. Rasa suka yang cukuplah hanya Allah dan kita (dan mungkin keluarga dan teman-teman terdekat kita) sendiri yang mengetahuinya. Sebagaimana rasa suka antara Ali dan Fatimah, yang sampai-sampai iblis pun tidak mengetahuinya. Rasa suka yang diwujudkan dalam kata dan bermuara pada cinta kepada istri kita (atau suami kita) pada saatnya nanti. Bila belum sampai pada saatnya, cukuplah untuk hati kita sendiri.

Jadi rasa suka yang seperti apa? Rasa suka yang sekedar rasa suka. Rasa suka yang tidak akan mengurangi keimanan kita. Rasa suka yang tidak membuat kita menuhankan dia yang kita suka. Rasa suka yang justru menambah keimanan kita dengan membuat kita menyadari bahwa rasa suka itu memang fitrah yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Menurut saya, itulah yang membedakan kedua rasa suka itu. Menurut Anda?

Ada pendapat yang menyatakan, daripada mendapat segala kerugian rasa suka, lebih baik ga usah punya rasa suka sama sekali. Selama itu merupakan usaha preventif, dengan hijab misalnya, malah bagus. Tapi siapa yang bisa menjamin kita ga akan suka ama seseorang di dunia yang sudah terlanjur seperti ini? Bila kemudian usaha-usaha itu menjadi usaha untuk menghilangkan sesuatu yang terlanjur menjadi bagian hati kita, usaha keras menghilangkannya akan membuat rasa suka itu semakin tak bisa meninggalkan hati kita. Itu bukan berarti kemudian kita malah mencari-cari kesempatan untuk bertemu. Ingatlah sekali lagi bahwa suka dengan seseorang itu fitrah. Bila tiba-tiba kita sadar kita menyukai seseorang, biarkanlah rasa itu mengalir ke dalam hati kita dan hanya di hati kita bila memang belum waktunya (menikah). Bila sudah? Tunggu apa lagi?

-untuk seseorang yang dia tak tahu aku menyukainya-

*Siapa tuh? Gue aja belum tau....

Sunday, April 02, 2006

dua artikel yang pernah dimuat di kronika

Bioenergi , bukan Hanya Alternatif.

Bioenergi adalah energi yang bersumber dari biomassa – materi organik berusia relatif muda yang berasal dari makhluk hidup atau produk dan limbah industri budidaya (pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan). Bioenergi adalah sumber energi terbarukan, yaitu sumber energi yang dapat tersedia kembali dalam jangka waktu tahunan, tidak seperti minyak bumi atau batu bara yang membutuhkan waktu jutaan tahun. Bioenergi juga ramah lingkungan karena tidak menambah jumlah karbon dioksida ke atmosfer – bahan mentahnya berasal dari organisme hidup yang mendapatkan karbonnya dari atmosfer. Selain itu bahan bakar berbasis bioenergi umumnya minim kandungan sulfur atau berbagai macam logam berat yang lazim digunakan sebagai aditif pada bahan bakar berbasis fosil. Bioenergi sebenarnya bukanlah suatu bentuk energi yang asing. Masyarakat di desa ada yang masih menggunakan kayu bakar. Meski terkesan kuno, banyak bentuk bioenergi lain yang lebih modern. Biodiesel, bioetanol dan biogas adalah beberapa di antaranya. Biodiesel sebenarnya sudah digunakan secara tidak langsung dalam bentuk peanut oil ketika Rudolf Diesel mengujicoba mesin dieselnya. Biodiesel adalah suatu metil ester asam lemak yang dapat berasal dari minyak lemak nabati via proses metanolisis atau asam lemak bebas via proses esterifikasi bersama dengan metanol. Bahan-bahan baku tersebut dapat diekstraksi dari kelapa, kelapa sawit, jarak pagar dan karet. Biodiesel dapat digunakan langsung pada mesin diesel yang sudah ada sebagai campuran untuk minyak diesel berbasis petroleum (petrodiesel) atau sebagai komposisi utama bahan bakar pada mesin diesel yang sudah dimodifikasi. Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dari sumber daya hayati. Bioetanol dapat dibuat dari nira bergula dari tebu, aren, siwalan dan nipah; bahan berpati dari singkong, ubi jalar dan sagu; serta bahan berselulosa dari kayu, batang pisang, jerami dan bagas. Dari bahan-bahan mentah ini, bioetanol diproduksi via proses fermentasi alkoholik menggunakan bakteri Saccharomyces cerevisiae. Bioetanol dapat digunakan pada mesin bensin yang sudah ada tanpa modifikasi sebagai campuran bensin/gasohol (sampai dengan 22%-volum) atau pada mesin bensin khusus yang telah disesuaikan sebagai bahan bakar etanol berhidrat (85-95%-volum dan sisanya air). Saat ini, mesin bensin khusus ini hanya ada di pasar Brasil yang memang telah mengembangkan bioetanol sejak tahun 1970-an. Biogas adalah gas produk akhir pencernaan/degradasi anaerobik (dalam lingkungan tanpa oksigen) oleh bakteri-bakteri. Biogas terdiri dari metana (54-80%-volum) dan sisanya karbon dioksida. Biogas dapat diperoleh dari kotoran sapi, kotoran kuda, batang dan daun jagung, jerami dan sekam padi, rumput gajah dan eceng gondok.

Selain tiga jenis bahan bakar yang telah disebutkan di depan, bioenergi juga digunakan dalam bentuk biokerosin, minyak bakar nabati, hidrokarbon dari lateks alam serta pembangkitan listrik dari sisa/limbah panen dan pengolahan perkebunan dan pertanian. Indonesia yang sangat kaya dengan bahan-bahan mentah sumber energi berbasis hayati tersebut tentunya harus bisa memanfaatkan dengan baik.

Pertanyaannya, mengapa kita masih bergantung pada bahan bakar berbasis fosil bila kita mempunyai potensi yang sangat besar untuk bahan bakar berbasis hayati? Mengapa bioenergi hanya menjadi sebuah alternatif? Ada tiga hal yang bisa kita tinjau berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Tiga hal tersebut yaitu kebijakan pemerintah, paradigma berpikir masyarakat, serta teknologi yang saat ini dipakai di masyarakat.

Pemerintah kita sebenarnya sudah cukup tanggap dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan bioenergi. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa peraturan yang sudah dikeluarkan pemerintah.
-Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik
-Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain
-Keputusan Menteri ESDM No. 0002 tahun 2004 tentang Kebijakan Energi Hijau
-Keputusan Menteri ESDM No.1122K/30/MEM/2002 Pedoman Pembangkit Skala Kecil Tersebar
-Peraturan Menteri ESDM No. 002/2006 tentang Pengusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah

Peraturan-peraturan ini telah menyediakan dukungan yang diperlukan untuk pengembangan bioenergi. Namun masih ada hal yang mengusik penulis. Dalam Inpres No.1 Tahun 2006 yang bertujuan mempercepat penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain (BBL), 13 Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota telah ditugaskan untuk mengambil langkah-langkah untuk melaksanakan percepatan dan pemanfaatan biofuel sebagai BBL. Lho, kok masih sebagai BBL? Selama bioenergi hanya dianggap sebagai alternatif dari bahan bakar fosil, kita tampaknya masih harus menunggu lebih lama lagi sampai bioenergi benar-benar bisa dimanfaatkan secara umum dan memasyarakat.

Paradigma berpikir masyarakat juga memegang peranan penting. Ada sebuah cerita yang penulis dengar sewaktu menjadi panitia seminar ”Pengembangan Bioenergi untuk Pembangunan yang Berkelanjutan” Ahad lalu di GSG Atas Salman. Ketika biogas berbasis kotoran sapi pertama kali dikembangkan di peternakan-peternakan sekitar Bandung, tanggapan pertama adalah rasa jijik para peternak yang berpikiran ”ih, pake tai buat masak?!”. Beberapa tahun kemudian ketika harga minyak tanah naik, para peternak yang dahulu mau mencoba memasang instalasi pembangkitan biogas pun menikmati rasanya ga usah beli minyak tanah.
Selain cerita dari peternakan sapi, penulis juga pernah mendengar tentang gasohol sebagai bensin oplosan. Memang gasohol adalah bensin yang dicampur dengan etanol, tapi campuran ini bahkan lebih bagus daripada Pertamax, berdasar ujicoba yang dilakukan peneliti BPPT (ujicoba dilakukan pada Kijang dengan kecepatan 80km/jam menggunakan gasohol E10/bensin dengan 10%-volum etanol).

Permasalahan paradigma ini bisa diatasi dengan pewacanaan-pewacanaan ke masyarakat dan kalau bisa dibantu dengan contoh-contoh nyata seperti kisah-kisah diatas.

Hal ketiga adalah teknologi yang saat ini dipakai di masyarakat. Bila kita ingin sepenuhnya mengaplikasikan bioenergi dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu akan ada penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan.

Teknologi yang saat ini telah luas diterapkan di masyarakat kebanyakan memang masih untuk digunakan dengan bahan bakar berbasis fosil. Lihat saja semua mobil-mobil itu. Lihat saja semua motor-motor itu. Solusinya, ya penggunaan bahan bakar berbasis hayati yang tidak memerlukan modifikasi pada mesin-mesin bakar yang sudah ada. Biodiesel dan bioetanol sudah dapat digunakan dalam taraf tertentu dengan mesin-mesin tersebut. Namun, penerapan teknologi yang sesuai untuk penggunaan bahan bakar berbasis biomassa tetap harus dilakukan. Hal itu termasuk pengembangan fasilitas distribusi dan produksi. Pengembangan ini harus dilakukan dengan tidak tersentralisasi karena rata-rata bahan mentah bahan bakar berbasis biomassa memiliki radius pengumpulan ekonomik hanya 80 km. Pengembangan yang terdesentralisasi juga membantu menaikkan taraf ekonomi masyarakat daerah.

Akhir kata, memang bioenergi saat ini belum bisa dinikmati secara umum. Namun pengembangan-pengembangan yang dilakukan oleh kalangan peneliti, kebijakan-kebijakan pemerintah yang sudah mulai mendukung pengembangan bioenergi, serta pewacanaan-pewacanaan yang dilakukan oleh pemerintah, kalangan peneliti dan unit kegiatan mahasiswa membuktikan bahwa hari-hari dimana harga bahan bakar ga ikut-ikutan naik saat harga minyak dunia naik bukanlah suatu mimpi kosong lagi.


dan ini tulisan yang lebih lama lagi...


OPEN SOURCE SEBAGAI ALTERNATIF SOFTWARE BAJAKAN

Di masa kehidupan serba digital seperti sekarang ini, kita (setidaknya mahasiswa) tak bisa melepaskan kehidupan dari penggunaan komputer secara langsung. Entah untuk mengerjakan tugas kuliah, mendengarkan musik atau menonton film, menulis artikel, desain tata letak buletin atau menyalurkan hobi meng-oprek software komputer. Sadar atau tidak, kita sering melakukan itu semua dengan software hasil bajakan. Hal itu sudah menjadi bagian kehidupan keseharian kita, tanpa berpikir lebih panjang lagi apakah penggunaan software bajakan menyalahi aturan yang berlaku di negara kita atau tidak. Lebih jauh lagi, kita bahkan juga kurang peduli masalah halal atau haramnya penggunaan software bajakan.

Software Bajakan: Mengapa Bisa Booming?
Maraknya penggunaan software bajakan terjadi karena beberapa faktor. Pertama adalah mahalnya software itu sendiri. Satu kopi software keluaran Microsoft harganya berkisar ratusan dolar, entah itu sistem operasi (Windows®), game, ataupun Microsoft Office®. Melihat kondisi rakyat Indonesia yang untuk makan sehari-hari saja sudah susah, tentu saja mereka tidak akan memilih untuk membeli aplikasi-aplikasi dengan harga ratusan dolar itu. Masalah harga kelihatannya memang terkesan seperti monopoli dari perusahaan-perusahaan pembuat software, akan tetapi bukankah itu juga merupakan hak dari perusahaan tersebut, yang berhasil membuat software-nya menjadi lebih mudah dimengerti oleh pengguna?
Faktor tingginya harga inilah yang menyebabkan adanya faktor kedua, yaitu hadirnya bisnis penjualan software bajakan. Salah satu contohnya adalah penjual-penjual software bajakan di pinggir Jalan Ganesha. Faktor selanjutnya adalah konsumen. Mereka adalah orang-orang yang telah memakai komputer dalam keseharian mereka. Beberapa dari mereka mengetahui bahwa software bajakan itu tidak baik dan ilegal. Meskipun demikian, kebanyakan dari mereka memang tidak bisa beralih dari software bajakan. Ada yang merasa kerepotan bila harus memakai sistem operasi yang asing, sehingga memilih untuk tetap bertahan memakai Windows®. Ada yang memang—maaf kalau sedikit kasar—gaptek (gagap teknologi) dan tidak berani mencoba karena takut komputernya rusak. Ada pula yang memang tidak tahu bahwa ada sistem operasi selain Windows®.
Bila masalah yang dihadapi adalah tingginya harga yang harus dibayar ketika ingin membeli software asli, maka memang ide pertama yang muncul adalah membeli bajakannya yang lebih murah. Namun hal ini tak bisa dijadikan solusi mengingat segala risiko yang kita hadapi (baik di dunia maupun di akhirat). Resiko dunia, itu sudah jelas. Akhirat? Yup, berdasarkan KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor : 1/MUNAS VII/MUI/15/2005 Tentang PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HKI), setiap bentuk pelanggaran terhadap HKI, termasuk namun tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan, menyerahkan, menyediakan, mengumumkan, memperbanyak, menjiplak, memalsu, membajak HKI milik orang lain secara tanpa hak, merupakan kezaliman dan hukumnya adalah haram.
Kekayaan intelektual di sini adalah kekayaan yang timbul dari hasil olah pikir otak, yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia, dan diakui oleh Negara berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, HKI adalah hak untuk menikmati dampak ekonomis dari hasil kreativitas intelektual milik yang bersangkutan, sehingga memberikan hak privat baginya untuk mendaftarkan, dan memperoleh perlindungan atas karya intelektualnya. Berdasarkan definisi tersebut software komputer termasuk kekayaan intelektual, dan usaha-usaha yang terkait dengan pembajakannya merupakan pelanggaran terhadap HKI.
Solusi utama tentu membeli produk yang sepadan namun sesuai dengan kemampuan keuangan kita, kalau bisa semurah mungkin atau bahkan gratis. Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah software berjenis open source. Source code software tersebut dibuka untuk umum, sehingga anggota masyarakat yang mengerti dapat memodifikasinya, dengan catatan perubahan tersebut harus didokumentasikan. Karena source code-nya dibuka untuk umum, otomatis software tersebut menjadi gratis. Biaya-biaya tambahan mungkin hanya untuk masalah tetek bengek seperti harga CD (Compact Disc) dan kemasannya.

Mengapa Harus Open Source?
Mengapa tidak? Secara umum kita sudah tahu bahwa penggunaan software bajakan itu melanggar hukum. Sebagai produk alternatif dari software bajakan, software open source memiliki beberapa keunggulan. Murah, jelas. Yang gratis juga ada. Bahkan ada satu distro Linux yang menawarkan CD instalasi Linux hasil pengembangan mereka secara gratis—berapapun yang kita pesan—hanya dengan syarat kita mendaftarkan diri ke website distro tersebut. Selain itu, karena ada komunitas yang mengembangkan beramai-ramai suatu software open source dan tentu sudah terbiasa dengannya, maka kita bisa mengharapkan bantuan ketika menghadapi masalah dengan software open source tertentu. Software open source juga lebih sulit terkena virus ketimbang software berbasis Windows®.
Walaupun tampaknya menjanjikan jika dilihat dari sisi harga, software open source tetap tidak bebas dari kekurangan. Hal-hal yang signifikan bagi pengguna awam tampaknya belum mendapat perhatian. Ini tampak pada tampilan yang monoton, menu yang sulit dimengerti, pesan-pesan error yang tidak jelas, navigasi yang perlu diadaptasi lagi oleh pengguna (shortcut Windows® tentu tidak berfungsi lagi pada software jenis ini). Beberapa hal di atas bukannya tidak mendapat perhatian dari pengembang software open source. Namun bila dibandingkan dengan Windows®, kelemahan ini tentu akan menjadi sesuatu yang mengganggu bagi orang yang belum terbiasa.
Selain itu, software open source ini mungkin tidak mengenali beberapa jenis hardware. Inkompatibilitas atau ketidakcocokan ini disebabkan adanya sejumlah penyedia hardware yang tidak menyediakan source code untuk driver hardware-nya. Meskipun demikian, jumlah hardware yang belum dapat didukung oleh sistem operasi open source, semakin lama semakin sedikit berkat pengembangan terus-menerus dari komunitas open source.

Penutup
Sebagai salah satu alternatif sistem operasi bagi komputer, software open source memang tidak akan pernah luput dari kekurangan-kekurangan. Akan tetapi, berkat pengembangan yang dilakukan terus menerus oleh komunitas open source, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diminimalisasi. Kekurangan yang masih ada serta belum terbiasanya masyarakat dalam penggunaan software open source, bukan hanya tanggung jawab komunitas open source. Kita semua juga bisa ikut memberikan kontribusi dalam pengembangan software open source.
Bagaimana caranya? Pertama, dengan ikut menggunakannya. Bila terasa susah untuk pertama kalinya, bukankah semua hal memang seperti itu? Bila merasa tidak cocok dengan tampilan, bukankah kita bisa mengkonfigurasinya agar cocok dengan selera kita? Setelah terbiasa menggunakannya, kebiasaan menggunakan software open source tersebut akan membawa kepada kontribusi kedua yang bisa kita lakukan. Yaitu agar setiap orang yang menggunakannya bisa ikut mengembangkan software tersebut, walaupun pengembangan itu awalnya hanya untuk diri kita sendiri. Agar setiap orang dapat semakin menerima software open source, semakin mudah menggunakannya, dan agar pengembangan software komputer–sesuatu yang sangat berharga bagi pengembangan kebudayaan manusia—tidak cuma dilakukan oleh orang yang itu-itu saja.


wassalamu 'alaikum

Tuesday, January 24, 2006

aduh...

yay, jadi aga risih juga kalo cuma nulis gitu doang di hari pertama punya blog.
tapi, abis emang lagi ga ada... eh, dibikin ada aja deh.

jadi, saya bikin blog karena menurut saya blog bisa menjadi sarana yang tepat untuk mengekspresikan opini, perasaan, persepsi saya terhadap sesuatu. yah, ini juga gara2 ngeliat blog nya temen. jadi ngerasa (lebih) kenal gitu. eh, meskipun begitu, sebenernya ada kurangnya juga sih blogging itu. yang paling jelas sih blogging itu similar ama curhat di depan umum. ngember gitu. dan menurut gw itu bukan hal yang baik. emang sebagai manusia kita punya tendensi untuk show-off apa yang kita pikirkan atau rasakan sehingga attention orang-orang pun terarah ke kita, tapi konsekuensinya, we might end up hurting somebody's heart! believe me, i've done that, and i dont want to do that (intentionally) again. yah, cerita detil tentang ngember itu kapan-kapan aja deh saya masukin ke blog (in truth, saya malah mikir untuk ngepost tentang itu abis ini aja). sekarang, saya pengen ngomong tentang inkonsistensi. no, not generally. saya cuma pengen ngomongin, kok tulisan gw ganti-ganti terus antara pemakaian kata "gw" dan "saya". hm,lost the train. ok, back. jadi, saya make kata saya kalo merasa ingin memberi (secara umum)kesan sopan. dan gw make kata gw kalo... kalo... hm, kayaknya gw make kata gw tanpa berpikir terlebih dahulu deh. jadi,klo gw lagi make kata saya, berarti gw sempet berpikir untuk memposisikan diri gw. tapi klo saya make kata gw, berarti itulah saya apa adanya, dari sananya, atau emang lagi gak perlu mikir tentang "saya" ato "gw". okey, itu bisa jadi konklusi gak yah? karena gw mau mengakhiri post pertama (kedua) gw disini.

wassalamu 'alaikum